Seperti biasanya, mentari mulai terbit diufuk timur merenggut tidurku yang tak nyenyak karena memimpikanmu senantiasa.
Cerita pagi pun dimulai. Bangun dengan mata yang sembap, wajahnya lusuh, rambutnya tergerai dan tubuh yang berselimut dinginnya hujan. Aku melangkah menuju dapur, kembali menjadi Upik Abu pagi ini. Tak ada yang berbeda, aku melakukan semuanya meski tubuh kian ringkih dengan penyakit ini. Aku mulai merasakan ada yang menetes jatuh, dan itu benar. Darah mulai menetes. Ahh aku mimisan lagi entah untuk kesekian kalinya pun aku tak ingat. Hanya kusapu darah itu, kulanjutkan menyapu dan mengirim pesan singkat kepada Hujan panasku nan jauh disana.
Ahh hangat sudah tubuh ini melihat wajahnya dilayar laptopku. Kurasa darah pun telah membeku. Aku tahu hujan masih turun pagi ini. Dan ada setitik semangat bagiku untuk hidup, menghirup bau embun, menyentuh langit biru dan memuja mentari. Dengan langkah terseok dan wajah yang cukup pucat, aku tetap harus bersekolah. Hujan pernah berpesan "cintailah ilmu, seperti aku mencintai ilmu". Dan jika suatu saat Tuhan memberi kesempatan pelangi untuk membalasnya, mungkin pelangi akan berkata "Hujan, aku sangat mencintai ilmu, seperti aku yang sangat mencintaimu".
Hari ini tak ada yang istimewa selain ulangtahun sahabat baikku. Ah mengapa aku bisa melupakannya. Sejak aku sadari tubuh ini sakit, aku malah semakin menjadi pelupa. Tapi tidak dengan hujanku. Aku masih mengingatnya dalam tidur, doa dan kesakitanku.
Tadi siang, sahabatku membuat sebuah kalimat "im wasser verbrannt". Sebuah bahasa jerman yang berarti "terbakar didalam air".
Ahhh, kurasa itu ceritaku. Aku terbakar didalam air, aku merasa cinta yang bergelora dan membara dibawah hujan. Aku merasakan panasnya mentari juga dibawah hujan, Aku memeluk hangat tubuhmu juga dibawah hujan, wahai hujanku, hujan panasku.
Bagai terbakar didalam air, aku bergejolak dalam tenang, aku bahagia dalam kesakitan, aku tersenyum dalam ketiadaan, aku mencintai dalam kesederhanaan.
Aku mencintaimu dengan sederhana.
Hanya dengan hujan dan pelangi, kurasa kau sudah tahu lirihnya aku tanpamu.
Pelangi tak akan indah tanpa hujan yang mengawalinya dan hujan tak akan nikmat tanpa pelangi yang mengakhirinya. Seperti kita, sayang.
Kau yang mengawali hidupku, mengajariku kedewasaan, menceritakan pengalaman, berbagi tentang stigma dan paradigma. Membuat aku tahu betapa bahagia memilikimu disisiku.
Aku yang akan siap mengakhiri setiap cerita mu dengan bodohnya, dengan tawa kecilku, dengan aku yang masih haus akan jiwa muda.
Ahhh....
Mengapa semua ini semakin jelas ? Mengapa hujan dan pelangi memang mengisahkan kau dan aku?
Hujan dan Pelangi (Kecil) adalah Kau dan Aku.
Untuk hujan panasku, Untuk dia yang membakarku dalam air, Untukmu yang saat ini menjadi pembaca tulisanku dan mengatakan betapa manisnya senyumku. Terimakasih, Hujan-ku.
Ich im wasser verbrannt ~
Cerita pagi pun dimulai. Bangun dengan mata yang sembap, wajahnya lusuh, rambutnya tergerai dan tubuh yang berselimut dinginnya hujan. Aku melangkah menuju dapur, kembali menjadi Upik Abu pagi ini. Tak ada yang berbeda, aku melakukan semuanya meski tubuh kian ringkih dengan penyakit ini. Aku mulai merasakan ada yang menetes jatuh, dan itu benar. Darah mulai menetes. Ahh aku mimisan lagi entah untuk kesekian kalinya pun aku tak ingat. Hanya kusapu darah itu, kulanjutkan menyapu dan mengirim pesan singkat kepada Hujan panasku nan jauh disana.
Ahh hangat sudah tubuh ini melihat wajahnya dilayar laptopku. Kurasa darah pun telah membeku. Aku tahu hujan masih turun pagi ini. Dan ada setitik semangat bagiku untuk hidup, menghirup bau embun, menyentuh langit biru dan memuja mentari. Dengan langkah terseok dan wajah yang cukup pucat, aku tetap harus bersekolah. Hujan pernah berpesan "cintailah ilmu, seperti aku mencintai ilmu". Dan jika suatu saat Tuhan memberi kesempatan pelangi untuk membalasnya, mungkin pelangi akan berkata "Hujan, aku sangat mencintai ilmu, seperti aku yang sangat mencintaimu".
Hari ini tak ada yang istimewa selain ulangtahun sahabat baikku. Ah mengapa aku bisa melupakannya. Sejak aku sadari tubuh ini sakit, aku malah semakin menjadi pelupa. Tapi tidak dengan hujanku. Aku masih mengingatnya dalam tidur, doa dan kesakitanku.
Tadi siang, sahabatku membuat sebuah kalimat "im wasser verbrannt". Sebuah bahasa jerman yang berarti "terbakar didalam air".
Ahhh, kurasa itu ceritaku. Aku terbakar didalam air, aku merasa cinta yang bergelora dan membara dibawah hujan. Aku merasakan panasnya mentari juga dibawah hujan, Aku memeluk hangat tubuhmu juga dibawah hujan, wahai hujanku, hujan panasku.
Bagai terbakar didalam air, aku bergejolak dalam tenang, aku bahagia dalam kesakitan, aku tersenyum dalam ketiadaan, aku mencintai dalam kesederhanaan.
Aku mencintaimu dengan sederhana.
Hanya dengan hujan dan pelangi, kurasa kau sudah tahu lirihnya aku tanpamu.
Pelangi tak akan indah tanpa hujan yang mengawalinya dan hujan tak akan nikmat tanpa pelangi yang mengakhirinya. Seperti kita, sayang.
Kau yang mengawali hidupku, mengajariku kedewasaan, menceritakan pengalaman, berbagi tentang stigma dan paradigma. Membuat aku tahu betapa bahagia memilikimu disisiku.
Aku yang akan siap mengakhiri setiap cerita mu dengan bodohnya, dengan tawa kecilku, dengan aku yang masih haus akan jiwa muda.
Ahhh....
Mengapa semua ini semakin jelas ? Mengapa hujan dan pelangi memang mengisahkan kau dan aku?
Hujan dan Pelangi (Kecil) adalah Kau dan Aku.
Untuk hujan panasku, Untuk dia yang membakarku dalam air, Untukmu yang saat ini menjadi pembaca tulisanku dan mengatakan betapa manisnya senyumku. Terimakasih, Hujan-ku.
Ich im wasser verbrannt ~
Komentar
Posting Komentar