Aku mengenalnya dari media pertemanan virtual. Sering mengirim komentar dan menyebut nama akunku. Sehari saja tidak bertegur sapa ala dunia maya, serasa sepi. Pernah kami tidak bertegur sapa, aku pun merasa khawatir, kenapa dia? Jangan-jangan…tapi itu hanya pikiranku. Dia hanya malas membuka pertemanan virtual itu. Kami ternyata tinggal di satu kota. Bicaranya sangat manis dan sopan. “Hmm… lumayan lah.” pikirku. Kami sering berkirim kabar lewat jejaring sosial. Sampai-sampai aku tau sekarang dia sedang apa dan dengan siapa. Aku pun, entahlah, sepertinya aku mengenalnya.
Beberapa hari…beberapa minggu dan beberapa bulan berlalu dan kami selalu seperti itu. Sepertinya sudah menjadi kebiasaan kami bertegur di dunia maya. Hingga suatu hari aku ajak dia ketemuan, Sebenarnya sejak dulu aku ingin bertemu dengan dia. Tapi dia takut dan dia selalu takut. Aku pun menawarkan diri untuk berkunjung ke rumahnya. Ah…dia tidak mau, pikirku. Aku tahu dia kerja dimana, aku pun tahu dia tinggal dimana, walopun di profil jejaring sosial, dia tidak tercantum dgn jelas.
Hmm…aneh. Dia selalu bercerita tentang kehidupannya. Dulu dia punya pacar yang sangat baik, tapi entah kenapa pacarnya itu meninggalkannya. Ada rasa cemburu waktu dia bicara itu. Tapi aku sadar, aku cuma teman virtualnya. Dia menceritakan betapa baik pacarnya itu. Pokoknya dia menceritakan semuanya padaku. Aku menghargainya dengan bercerita tentang dia juga. Tapi aku tidak menceritakan masa laluku. Aku kurang ingat masa laluku seperti apa. Aku hanya bercerita setiap ada masalah kuliah ataupun masalah dengan teman kampus, standar, seperti itu. Sampai suatu hari, aku ingin menangis ketika dia menceritakan bahwa dia udah baikan dengan “mantan” pacarnya itu. Sebenarnya bukan mantan, lelaki itu yang meninggalkannya tanpa ada kata putus. "Aku sayang dia"
Beberapa hari…beberapa minggu dan beberapa bulan berlalu dan kami selalu seperti itu. Sepertinya sudah menjadi kebiasaan kami bertegur di dunia maya. Hingga suatu hari aku ajak dia ketemuan, Sebenarnya sejak dulu aku ingin bertemu dengan dia. Tapi dia takut dan dia selalu takut. Aku pun menawarkan diri untuk berkunjung ke rumahnya. Ah…dia tidak mau, pikirku. Aku tahu dia kerja dimana, aku pun tahu dia tinggal dimana, walopun di profil jejaring sosial, dia tidak tercantum dgn jelas.
Hmm…aneh. Dia selalu bercerita tentang kehidupannya. Dulu dia punya pacar yang sangat baik, tapi entah kenapa pacarnya itu meninggalkannya. Ada rasa cemburu waktu dia bicara itu. Tapi aku sadar, aku cuma teman virtualnya. Dia menceritakan betapa baik pacarnya itu. Pokoknya dia menceritakan semuanya padaku. Aku menghargainya dengan bercerita tentang dia juga. Tapi aku tidak menceritakan masa laluku. Aku kurang ingat masa laluku seperti apa. Aku hanya bercerita setiap ada masalah kuliah ataupun masalah dengan teman kampus, standar, seperti itu. Sampai suatu hari, aku ingin menangis ketika dia menceritakan bahwa dia udah baikan dengan “mantan” pacarnya itu. Sebenarnya bukan mantan, lelaki itu yang meninggalkannya tanpa ada kata putus. "Aku sayang dia"
Komentar
Posting Komentar