Kapan Nikah??? (Pertanyaan Yang Bikin Aku Galau)

Dalam bulan ini dan beberapa bulan kedepan aku banyak mendapat undangan pernikahan dari temen2ku, jujur itu membuatku Galau. Disaat banyak temen aku yang mulai hidup berumah tangga, aku masih berkelana tak tentu arah guna menemukan sebagian tulang rusukku yang raib, itu galau banget. Pengen gitu ya suatu saat aku yang ngirimin undangan pernikahan, tapi kapan ... ?????????

Setiap laki-laki yang dihadapkan pada pertanyaan "kapan nikah" selalu memiliki asumsi yang sama, bahwa menikah itu harus punya modal (disamping harus punya pasangan). Sebelum bisa meminang perempuan untuk dijadikan istri, cowok selalu punya standar sendiri dalam menentukan batas waktu tersebut, dan , jawabanya selalu seragam ,  NUNGGU MAPAN. (mapan seperti apa yg kamu tunggu?? tanya mereka..!! "ini bumerang untukku")


Untuk ukuran laki-laki, usiaku yang sekarang ini belumlah cukup tua untuk mulai berkomitmen. Aku suka tak mengerti mengapa orang tuaku selalu mempermasalahkan ini. Jelas, aku seorang lelaki normal yang mendambakan sosok perempuan yang nantinya akan mendampingiku. Mencintai saja jelas tak cukup, butuh suatu perasaan lebih agar nantinya aku bisa mengayomi keluargaku, menjadi suami untuk istri dan ayah yang baik untuk anak-anakku.

Bukan masalah umur sepertinya, menurutku mengapa mereka suka mempertanyakan ini kepadaku. setelah 3 tahun yang lalu aku sama sekali belum memperkenalkan seorang perempuanpun kepada keluargaku. Menurut mereka, apa lagi yang aku cari, aku telah mapan, dan lebih dari cukup. bahkan mereka menilai, aku tidak dewasa dan masih ingin bebas. Jelas aku kesal dikatakan seperti itu, pernah beberapa kali, aku ingin mengatakan sesuatu hal pada mereka. sesuatu hal yang terdengar kejam dan pastinya menyakitkan. tapi aku merasa, mereka memang harus mendengarkan itu.

Nelangsa, memang seperti itulah rasanya. Kemarin aku sempat menyukai seorang wanita,tapi entah kapan dia bisa mencintaiku. Aku masih tetap menunggu meski aku tau tak akan ada ujung dari penantian ini yang ada kemudian hanyalah aku menyerah kalah.
Dan lihatlah aku sekarang ini. muda, segar, punya cukup rasa percaya diri yang tinggi, dan yang paling penting di atas segala itu adalah, aku merdeka semerdeka-merdekanya. aku tidak bisa diperintah orang, dan aku emoh memerintah orang. aku tidak tergantung pada orang lain, dan tidak ada orang lain yang tergantung kepadaku. aku bisa melakukan apa saja yang aku inginkan. hampir semua keinginan dan kesenanganku bisa kulakukan dengan baik. tak ada yang bisa mengoyak diriku.

Tapi lihatlah orang yang cukup tak beruntung ini. ruang tidurku getir. tidak ada yang tertawa riang di sana. tidak ada tubuh yang kupeluk lalu kubisikkan kata sayang ketika musik sendu mengalun. aku menonton televisi sendirian. aku menonton film sendirian. malam-malam hadir seperti laknatan. membolak-balik buku, mebolak-balik pikiran. tak ada suara orang yang bernyanyi di sampingku. ketika aku bangun, tidak ada perempuan pulas di sampingku. tidak ada yang membangunkanku. jendela kamar mengeruh. cahaya matahari ikut keruh.

Tidak ada orang yang suka kesendirian. hanya saja aku tidak memaksakan diri mendapat teman. kalau memaksakan diri yang didapat hanya kekecewaan. .juga tak ada pemulihan untuk rasa kehilangan. hanya ada penerimaan atau pengingkaran.
Kini aku hampir tak peduli lagi, mungkin perempuan itu belum diturunkan dari langit terindah sana untukku. Atau mungkin aku dinilai belum bisa bertanggung jawab untuk untuk menjaga amanah dari Allah, tak ada yang mengerti memang, namun untuk apa aku pikirkan, toh yang mengerti aku, adalah diriku sendiri.

Komentar