Aroma malam yang ranum, dengan sepuluh pasang kelelawar, diatas batang pohon mangga tua sebelah utara. Ku tersadar, masih memerhatikan memeluk selembar foto, yang sudah kusut penuh ruas, namun teduhnya masih seperti tadi dulu, persis sebelum kau menutup pintu, memadamkan mata lampu. Kini cuma ada hening, dan ku masih menatap cangkir-cangkir kopi, yang mendingin di sisa semalam.
Dalam pejam, hidup terasa lebih nyaman, karena saat ku terjaga dalam nyata, remah waktu hanyalah menuai getir, menggerogoti sepotong demi sepotong, dinding hatiku yang sudah terlalu tipis, nyaris habis. Namun, esok hari, pagi bakal datang lagi, menunggu dibalik pintu untuk ku jumpai, dan itu, hanya bisa kuhadapi, dengan hela nafas panjang, dan senyum yang membisu.
Malam ini kenangan itu mencair, dan saat pagi nanti pasti jadi embun, sejuknya sampai di pucuk-pucuk daun. Aku akan kembali memulai pagi, menyusuri jalan-jalan yang biasa ku lewati, memutar lagu-lagu yang biasa ku nyanyikan, semuanya masih sama, sungguh masih sama, hingga ditepi jalan itu, aku kembali sadar, tak ada lagi jejakmu, dan aku benci itu.
#Secangkir Teman Baikqu#
Dalam pejam, hidup terasa lebih nyaman, karena saat ku terjaga dalam nyata, remah waktu hanyalah menuai getir, menggerogoti sepotong demi sepotong, dinding hatiku yang sudah terlalu tipis, nyaris habis. Namun, esok hari, pagi bakal datang lagi, menunggu dibalik pintu untuk ku jumpai, dan itu, hanya bisa kuhadapi, dengan hela nafas panjang, dan senyum yang membisu.
Malam ini kenangan itu mencair, dan saat pagi nanti pasti jadi embun, sejuknya sampai di pucuk-pucuk daun. Aku akan kembali memulai pagi, menyusuri jalan-jalan yang biasa ku lewati, memutar lagu-lagu yang biasa ku nyanyikan, semuanya masih sama, sungguh masih sama, hingga ditepi jalan itu, aku kembali sadar, tak ada lagi jejakmu, dan aku benci itu.
#Secangkir Teman Baikqu#
Komentar
Posting Komentar