"Tokohnya Fiktif, Namun Ceritanya Fakta" (CurHat Seorang Teman)


Dengan langkah mantap kuhadapkan wajahku ke beningnya langit pagi itu. Hari ini adalah hari yang bersejarah, untuk pertama kalinya pada hari ini aku akan memperlihatkan kerja kerasku selama ini. Setengah mati aku mengajari anak kelas VI, kelas dimana aku mengajar setahun ini, agar mereka sukses menembus batas minimal nilai Ujian Nasional (UN).
Beragam metode kupraktikkan, jam belajar tambahan kuberlakukan, hingga kunjungan kerumah-rumah orang tua murid kuefektifkan setiap harinya agar murid-muridnya senantiasa merasa dalam pantauanku.
Ini adalah tahun pertama kalinya aku mengajar kelas VI, setelah tiga tahun berkutat dikelas V dan berhasil meningkatkan indeks prestasi siswa mulai dari nilai harian, nilai ulangan, hingga prestasi akademik diberbagai kejuaraan calistung, akhirnya kepala sekolah memutuskan untuk tahun ini pembinaan siswa kelas VI dipercayakan kepadaku.
Tentu saja ini adalah amanat yang cukup sulit mengingat kelas VI merupakan ujung tombak penilaian enam tahun masa pendidikan di sekolah dasar. Dan UN merupakan puncak perhelatan dari berbagai kegiatan belajar mengajar yang diadakan selama ini.
Kepala sekolah mentargetkan agar nilai UN setiap anak haruslah memiliki rata-rata diatas 7,0. Itu berarti, aku sebagai guru kelas enam, haruslah kerja ekstra mengingat tak semua siswa dalam satu kelas merupakan anak-anak yang bisa diandalkan. Apalagi sekolah ini merupakan sekolah yang siswanya kebanyakan berasal dari golongan menengah ke bawah, terbatas dari segi fasilitas, hingga acuh tak acuh terhadap yang namanya belajar karena kurang perhatian orang tua atau justru terlalu sibuk bekerja guna membantu ekonomi keluarga.
Tapi, aku tak perduli! Kutekadkan dalam hati jikalau Allah berkehendak, segalanya pasti akan mudah pada saatnya. Semenjak jauh-jauh hari kugembleng mereka semua dengan berbagai input motivasi serta jam pelajaran tambahan. Aku tak ingin anak-anak muridku gagal. Terbayang olehku jika mereka tak dapat melanjutkan ke SMP Negeri karena nilai UN-nya kurang memadai, tentu semuanya akan menjadi beban bagi orang tua mereka. Terutama bila orang tuanya hanyalah seorang penarik becak ataupun penjual sayur yang akhirnya memaksa si anak untuk putus sekolah dari pada bersekolah di SMP Swasta.
Semilir angin membelai lembut jilbab putihku saat kumasuki gerbang sekolah. Di sekolah ini, aku terbilang guru baru yang belum sarat akan pengalaman mengajar. Akan tetapi karena pada tahun ini guru kelas VI sedang cuti melahirkan dengan terpaksa aku naik menjadi guru kelas VI. Keputusan ini juga didasarkan pada prestasiku saat mengajar kelas V, tiga tahun sebelumnya. Secara tak diduga di bawah bimbinganku aku berhasil menghantarkan beberapa murid kelas V menjuarai lomba calistung selama 3 tahun berturut-turut, lomba yang sebelumnya tak pernah sekalipun dimenangkan oleh SD tempat ku mengajar ini.
Di sekolah statusku pun masih sebagai guru bantu dan bukan guru tetap. Tapi meskipun begitu saat mengajar tak pernah aku membawa-bawa status itu. Aku selalu berusaha menjadi guru yang profesional walaupun kadang terasa sangat melelahkan namun aku selalu ingin mengoptimalkan setiap ikhtiar dalam kegiatan belajar-mengajar agar Allah memberikan yang terbaik di penghujung tahun ajaran ini.
Karena belum berstatus guru tetap, pada masa UN ketika guru-guru disekolahku harus mengawas disekolah lain, aku tetap ada disekolah menemani kepala sekolah mempersiapkan administrasi. Meski tak mendapat jatah mengawas di kelas, aku cukup gembira dapat melihat murid-murid kelas VI yang sudah kubina selama satu tahun ini menuntaskan evaluasi puncaknya.
Bel tanda masuk berbunyi nyaring menandakan ujian akan segera di mulai. Anak-anak muridku yang semula komat-kamit menghafal materi pelajaran kini sudah bersiap sedia di mejanya.
Waktu pengerjaan dimulai, setiap anak nampak serius mengerjakan soal, ada yang garuk-garuk kepala saat mengerjakan soal yang sulit dan ada pula yang membaca berulang-ulang. Pemandangan unik ini kusaksikan dari luar jendela. Sungguh mengesankan, setelah semalaman aku bersimbah air mata dalam tahajud untuk mendoakan agar mereka diberi semangat dan kemudahan dalam mengerjakan soal, sekaranglah saatnya Allah menampakkan kebesaran-Nya.
Tiba-tiba ada yang memanggilku dari belakang, “Bu Aminah kita ada pekerjaan.”
Rupanya Bu Tuti pegawai TU sekolah bermaksud mengajakku menghadap kepala sekolah untuk membantu urusan administrasi katanya.
Di meja kepala sekolah sudah ada Bu Dedeh guru kelas III, dan Pak Arto, wakil kepala sekolah yang juga merangkap guru kelas V. Mereka sedang mengerjakan lintingan-lintingan kertas yang berserak di atas meja.
“Bu Aminah, mari silahkan duduk.” Ujar Pak Kepala Sekolah dengan lembut.
Aku pun mengambil tempat,”Sedang mengerjakan apa, Pak? Kok banyak lintingan kertas?”
“Ini Bu Aminah, karena ibu orang baru disini jadi mungkin belum banyak tahu soal ini. Apalagi tiga tahun ke belakang ibu kan tidak pernah dilibatkan dalam tugas kepanitiaan UN” Pak Arto menjawab.
Suasana hening sejenak hingga akhirnya Pak Kepala Sekolah angkat bicara,”Saya tahu Bu Aminah sudah banyak berkorban untuk anak kelas VI, saya juga melihat kesungguhan ibu dalam mengajar setahun ini, saya yakin nilai UAN anak-anak kelas VI sekarang pasti memuaskan.”
“Terima kasih, Pak. Saya hanya mencoba jadi guru yang baik.” Aku tersipu mendengar sanjungan itu.
“Saya juga yakin anak-anak ibu pasti sudah berusaha keras semalaman untuk mempersiapkan hari ini. Dan saat ini tugas kita untuk membantu mereka”
Aku terdiam sejenak. Apa maksudnya kata-kata terakhir tadi. Mungkin kita akan melakukan do’a bersama. Aku mencoba mengalihkan perasaanku kepada persangkaan yang terbaik.
“Jadi begini, Bu. Nanti ibu bantu kami menyebarkan lintingan kertas ini kepada para murid.” Pak Arto berusaha memperjelas isi pembicaraan kepala sekolah tadi.
“Apa itu, Pak?” Tanyaku lirih.
“Ini jawaban, Bu!”
Jantungku seketika berdenyut cepat. Keringat dingin keluar dar setiap sudut pelipisku. Perasaanku campur aduk. Hatiku kini dipenuhi tanda tanya besar. Apa artinya aku mengajar selama ini dan apa artinya para murid belajar sungguh-sungguh setiap hari. Jika dengan mudahnya saat ujian mereka mendapatkan jawaban soal. Ujian ini seakan-akan hanyalah sebuah bualan.
Aku mencoba dengan sesopan berkata, ”Bu, Pak, mohon maaf sebelumnya? Mengapa semua ini harus kita lakukan?”
“Bu Aminah, ini sudah jadi hal biasa setiap tahunnya. Di semua SD yang ada di kabupaten ini juga umumnya melakukan hal seperti ini.” Jawab Pak Kepala Sekolah.
“Tapi, Pak…”
Sebelum sempat berkata-kata Bu Dedeh menyela pembicaraan.
“Bu Aminah, ini semua juga untuk anaka-anak ibu. Untuk siswa kelas VI. Agar mereka bisa tembus SMP Negeri”
“Iya, Bu. Kasihan kan mereka. Selain itu kalau lulusan kita nilainya tidak bagus bisa jatuh pamor sekolah kita dimata masyarakat.” Pak Arto menambahkan.
Merasa disela bertubi-tubi, aku pun berusaha tak goyah dengan prinsipku. “Tapi, Pak! Saya sudah berusaha mendidik mereka sekuat tenaga. Dan saya yakin mereka semua bisa lulus dengan kemampuan mereka sendiri.”
Pak Kepala Sekolah tersenyum,”Bu Aminah, begitu pula saya. Saya yakin seratus persen akan kemampuan ibu dalam mendidik anak kelas VI. Saya pun ingin jujur, jauh dari lubuk hati terdalam saya tak ingin melakukan perbuatan bodoh seperti ini. Tapi apa boleh buat, Bu. Saya sebagai kepala sekolah selalu di tekan oleh pihak pusat agar lulusan sekolah ini memiliki nilai yang baik. Dan saya juga mengetahui sekolah lain melakukan hal yang sama. Kalau kita jujur bisa-bisa nilai anak-anak kita kalah saing saat daftar masuk SMP Negeri nanti.”
Pak Arto menghela nafas panjang. Bu Dedeh hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya. Aku pun mengelus dada.
“Apa kita ingin mengajarkan agar anak bertindak curang?!” Ujarku agak meninggi. Semuanya terkejut, baru kali ini mereka melihatku berbicara dengan nada yang meninggi dihadapan mereka. Padahal biasanya aku adalah guru yang dikenal paling lirih saat berbicara dengan guru-guru yang lain, apalagi dihadapan kepala sekolah.
Melihat adanya keributan di ruang guru, seorang ibu berbaju dinas yang tak lain merupakan pengawas UN dari pusat masuk ruang guru dan menghampiri kami.
Bapak kepala sekolah kemudian berdiri dan menjelaskan dengan cara bisik-bisik ke pengawas tadi.
Jantungku berdegub kencang, jangan-jangan pengawas ini telah mengendus rencana memberikan contekan kepada para siswa. Aku jadi menyesal tadi bersuara terlalu kencang. Pikiranku jadi carut-marut, bagaimana jika kasus ini terbongkar dan menjadi stempel buruk bagi sekolah ini.
“Guru baru ya?!” tanya ibu berbaju dinas itu, yang terpampang nama Sri Astuti pada plat nama di bajunya, seraya memperhatikan penampilanku secara seksama.
“Iya bu, baru empat tahun saya mengajar disini” jawabku dengan nada selirih-lirihnya.
“Ya sudah, tak usah dibahas lagi. Kalau memang dia tidak mau membantu ya sudah. Cari guru yang lain. Waktu tinggal 60 menit lagi. Lintingan jawabannya harus segera dibagikan”
Aku tersentak kaget. Ternyata segala kegiatan yang berbau kecurangan ini sudah menjadi rahasia umum. Bahkan seorang pengawas UN sekalipun juga terlibat dalam semua ini.
“Maaf Bapak Kepala Sekolah dan Ibu Pengawas atas kelancangan saya. Tapi apa kita tidak takut berbuat seperti ini kepada anak-anak?”
Aku mencoba memberanikan diri. Mungkin saat ini Allah sedang menguji ketegaran hamba-hamba-Nya. Dan aku tak mau hanya diam tanpa berbuat sedikitpun.
“Takut sama siapa?” tanya ibu Sri Astuti sang pengawas ujian seraya berkacak pinggang dihadapanku.
Semua mata tertuju padaku. Pak Kepala Sekolah, Pak Arto, dan Bu Dedeh. Mungkin dalam hati mereka semuanya berharap agar aku mengunci mulut.
“Sama Allah, Bu” jawabku
Bu Astuti menggeleng-gelengkan kepala. Kemudian secara sontak ia berkata, “Munafik!!”
Semuanya terkejut, begitu pula denganku. Darah di tubuhku mengalir deras, jantungku berdegub kencang, keringat dingin mengalir deras di pelipisku.
“Jadi guru jilbab boleh panjang ya! Tapi kalau di sekolah ya aturan sekolah! Ga’ usah bawa-bawa aturan pengajian disini. Baru empat tahun mengajar sudah sok ceramah kaya ustadzah!”
Aku hanya bisa tertunduk saat di ceramahi panjang lebar oleh ibu Astuti. Kata-katanya sangat tajam, membuat perasaanku teriris-iris.
Kemudian Bapak Kepala Sekolah mendekatiku, “Sudah…sudah…mundur sana.” Ujarnya padaku.
Lalu sekali lagi Bapak Kepala Sekolah berbicara empat mata dengan Bu Astuti sementara itu Pak Arto dan Bu Dedeh melanjutkan merapihkan gulungan jawaban yang akan diberikan ke siswa.
Setelah itu Bu Astuti keluar dan Pak Kepala Sekolah menghampiriku.”Bu Aminah, saya tahu kapabilitas anda sebagai seorang guru yang juga seorang muslimah yang ingin selalu menebar kebaikan. Tapi saya mohon untuk kali ini saja, bantu saya, bantu anak-anak kita. Saya tahu ini salah, dan akan jadi masalah yang lebih besar lagi jika tidak kita lakukan. Ayo saya mohon untuk kali ini saja”
Pak Kepala Sekolah berbicara dengan amat lirih, dengan nada amat memohon kepadaku seolah-olah berusaha menanggalkan segala kewibawaannya dihadapanku.
Akhirnya akupun berusaha untuk melakukannya. Hatiku seakan-akan luruh, aku merasa dalam keadaan yang serba salah. Mungkin imanku yang sedang goyah. Berkali-kali kalimat istighfar terucap dalam kalbuku, ”Hanya untuk sekali ini saja ya Allah. Ampunilah dosa-dosaku, ketiadakuasaanku, dan segala kelemahan yang terbingkai dalam hati yang pengecut ini.”
Bu Dedeh mengelus pundakku. Ia tahu ini pertama kalinya aku melakukan hal yang tidak seharusnya. Dengan segenap tenaga ia berusaha menguatkanku.
Pak Kepala Sekolah berbicara dengan pengawas ruangan tempat ujian berlangsung. Pengawas ruangan merupakan guru dari SD lain yang dirotasi dengan tujuan pengawasan UN lebih objektif.
Dengan mudahnya guru pengawas ujian keluar kelas dan kini dengan bebasnya aku masuk ruang kelas dan membagikan jawaban kepada para siswa. Tatapan mataku dijawab oleh Bu Dedeh, “Pengawasnya juga sudah tahu, guru-guru kita yang disuruh mengawas di SD lain juga melakukan hal yang sama. Jadinya anggaplah sebuah toleransi, ya sudah masuk ke dalam.”
Aku masuk ke dalam kelas, sebelumnya setiap siswa telah diberikan pengumuman oleh Pak Kepala Sekolah untuk memanfaatkan lintingan jawaban yang akan diberikan dan tidak berbicara kepada siapapun bahwa mereka mendapatkan lintingan kertas jawaban saat UN berlangsung.
Aku masuk kelas kemudian membagikan satu persatu kepada para murid seraya berpesan agar membuang lintingan jawaban ini setelah usai dipergunakan.
Pada mulanya semua murid terheran-heran. Hal ini dikarenakan aku adalah guru yang paling membenci perilaku mencontek, dan kini malah aku yang membagikan contekan. Tapi hampir semua murid menyambut dengan bahagia. Seketika mereka bergerilya memindahkan isi jawaban dari lintingan kertas kedalam lembar jawaban mereka.
Sampailah aku pada meja terakhir, meja seorang anak murid bernama Taufiq. Ia adalah murid yang selalu menempati rangking paling buncit dikelas terutama untuk mata pelajaran matematika. Untuk bisa perkalian saja aku harus mengajarinya mati-matian. Sampai-sampai setiap hari seusai pulang sekolah ia harus mendapat pelajaran tambahan dariku di sekolah dikarenakan nilai ulangan matematikanya selalu dibawah nilai 3.
Taufiq adalah anak yatim dari seorang ibu yang merupakan pedagang sayur di pasar induk. Pukul 01.00 malam ia harus membantu ibunya mengangkut sayur mayur hingga shubuh pagi. Alhasil setiap harinya di sekolah ia harus menyerap pelajaran sambil terkantuk-kantuk bahkan tertidur pulas. Belum lagi malam harinya ia bekerja serabutan menghitung dan menyortir plastik bekas di lapak daur ulang.
Semuanya berlangsung semenjak Taufiq menginjak kelas IV sehingga untuk urusan pelajaran sekolah ia selalu pasrah terutama pelajaran matematika. Inilah beban terberatku selama ini. Tapi setelah kutempa selama delapan bulan dengan pelajaran tambahan sepulang sekolah, aku yakin Taufiq dapat lulus meskipun nilainya pas-pasan atau sedikit diatas batas nilai kelulusan minimal.
Kuintip lembar jawaban Taufiq. “Ya Allah, dia baru menjawab tiga soal. Padahal sudah 90 menit berlalu. Bisa tidak lulus ujian nih anak.” Kusodorkan lintingan jawaban kepadanya.
“Ini, kalau kesulitan lihat kesini saja”
“Apa ini, Bu?” Taufik nampak bingung. Rupanya ia terlalu serius mengerjakan sehingga tak memperhatikan instruksi kepala sekolah mengenai lintingan jawaban yang baru saja disampaikan.
“Sstt!! Ini jawaban UAN” bisikku lirih. Saat itu kulihat setiap anak sudah mulai mempergunakan lintingan jawaban untuk menjawab soal-soal yang sulit.
Taufiq lalu menggeleng-gelengkan kepala. “Tidak usah, Bu. Saya mengerjakan sendiri saja.”
Aku menghela nafas panjang. ”Eh, biar nanti Taufiq bisa lulus UN. Udah ga apa-apa, Nih.” bisikku sambil menyodorkan lintingan jawaban itu.
“Tidak usah, Bu. Tidak usah”
Taufik tetap menolak dengan sopan, nampak raut wajahnya berubah menjadi ketakutan.
“Ini, kan tadi sudah di suruh sama Bapak Kepala Sekolah”
“Tidak, Bu. Saya takut. Saya ga berani menyontek”
Kutarik nafas panjang. Dengan penuh kesabaran aku mulai merayunya lagi. Dan Taufik pun tetap tidak mau.
Aku pun keluar kelas. Kulaporkan hal ini kepada kepala sekolah.
“Wah, bisa gak lulus nin anak?” Ujar Pak Kepala Sekolah dengan nada gusar.
Pak Kepala lalu masuk ruang kelas. Kemudian nampak ia berbincang dengan Taufik. Sejenak kemudian ia keluar dan menyuruhku memberikan lintingan jawaban lagi kepada Taufiq. Entah apa yang tadi Bapak bicarakan kepadanya.
Waktu tinggal 15 menit lagi. Kuhampiri meja Taufik dengan langkah tergesa-gesa. Aku duduk di bangku kosong yang ada di sebelah Taufiq.
“Taufiq, bagaimana diterima ya, lintingan jawabannya.”
“Tidak, Bu! Tidak usah…maaf saya takut, saya tidak mau mencontek.”
Kuhela nafas panjang, kulihat keluar ruangan kelas. Di sana Bapak Kepala Sekolah menunjuk-nunjuk jam tangannya pertanda waktu makin mendesak.
Kulihat lembar jawaban Taufiq. Kini ia sudah mengisi lima soal, dua soal lebih banyak dari sebelumnya.
“Taufik..” Aku menegurnya dengan nada lirih setengah putus asa.
Anak itu justru menggeser duduk mendekat ke arah tembok menjauhi posisiku duduk saat ini.
Kupegang punggung anak ini agar ia menghadap ke arahku. Dengan berbisik kutakan kepadanya, “Lihat, teman-temanmu semua memakai lintingan jawaban ini untuk mengerjakan soal UN.”
Taufiq tertunduk.
“Bisa tidak lulus kamu kalau hanya mengandalkan kemampuanmu.” Aku coba meyakinkannya bahwa menggunakan lintingan jawaban baginya adalah pilihan yang terbaik.
Bulir-bulir air mata mulai menetes membasahi pipi Taufiq.
“Taufiq kenapa?”
“Hiks..Hiks..Takut Bu. Hiks..Hiks.. Saya tidak berani berbuat curang.” Ujarnya sambil menahan isak tangis.
Dadaku bergemuruh. Hati kecilku berkata, “Mengapa semua jadi begini? Apa yang harus kulakukan?”
Kucoba menghapus air mata Taufiq, “Takut sama siapa? Bapak Kepala Sekolah sudah membolehkan setiap anak untuk melihat lintingan jawaban ini.”
Suasana hening sejenak, aku menatap Taufiq dalam-dalam. Kedua bibir mungilnya terkunci rapat. Aku merasakan tiba-tiba udara sekitar menjadi teramat sangat dingin. Hingga kedua bibir mungil Taufiq mulai bergerak dan mengucap dengan amat sangat lirih.
“Takut sama Allah, Bu.”
Tiba-tiba saja seakan-akan tubuhku bagaikan sejumput buih yang koyak dihempas badai. Keringat dingin seketika membanjir di pelipisku. Hawa dingin seolah-olah menyekap seluruh tubuh, dan tenggorokkan ini seakan-akan disumbat rapat-rapat. Lidahku kelu tak dapat lagi berkata-kata. Sebelum air mataku ini membanjir kularikan diriku keluar kelas tanpa kata-kata.
Bapak kepala sekolah yang sedang menunggu diluar kelas menanti jerih payahku membujuk Taufik kulewati begitu saja tanpa perduli sedikitpun saat ia memanggil-manggil namaku.
Aku terus melangkahkan kakiku menuju sebuah musholah kecil di belakang sekolah. Kusungkurkan tubuhku pada sebuah sajadah yang senantiasa menemaniku menunaikan dhuha di sela-sela waktu mengajar.
Kusesali segala kesalahanku. Aku merasa telah berbuat nifak. Kupertaruhkan segala prinsip agamaku hanya karena tak kuasa menghadapi ketakutanku kepada sesama manusia. Telah kurobohkan pondasi-pondasi kejujuran yang selama ini kutanamkan dalam hati murid-muridku melalui lintingan kertas contekan. Telah kujerumuskan mereka dalam perilaku yang tidak terpuji.
Aku merasa tak punya harga diri sebagai seorang guru, yang seharusnya jadi panutan, jadi tauladan, jadi contoh yang mulia bagi murid-muridku. Aku merasa hina. Jikalau saat tadi Izrail mencabut nyawaku niscaya aku akan mati dalam kondisi lupa kepada Allah. Dan mungkin neraka adalah tempatku nantinya di hari akhir. Astagfirullahal’adzim….
* * *
Semenjak peristiwa itu aku enggan pergi ke sekolah. Hari-hari UN selanjutnya kulewatkan begitu saja, aku lebih banyak termenung di kamar. Aku mengalami depresi mental yang sangat berat dan bahkan berniat mengundurkan diri sebagai guru bantu.
Namun pihak sekolah menolaknya dengan alasan sekolah ini masih kekurangan guru. Jalan tengah pun diambil sehingga kepala sekolah menginstruksikan kepadaku untuk kembali mengajar di kelas V. Akupun melepas tanggung jawabku sebagai guru kelas VI. Sebuah catatan hitam dalam perjalananku sudah tertoreh. Menyisakan penyesalan yang mendalam dan tak akan kulupakan sampai kapanpun.
Akupun tak akan pernah mengajar di kelas VI lagi sampai semua sistem ini dibenahi. Aku hanyalah sejumput rumput hijau di padang tandus, mencoba menahan sesak melihat pendidikan yang digulirkan untuk sebuah kebohongan besar. Pembodohan yang terselubung.

Komentar